Sabtu, 11 Februari 2017

One Stop Shopping di Ladies Corner Thamrin City


"Neng, di thamrin city ada ladies corner lho" kata suami saya waktu itu
"Maksudnya?"
"Jadi ada area khusus untuk perempuan, di area itu jual produk-produk buat perempuan, kayak tas, sepatu, kosmetik-kosmetik, trus disediakan parkir khusus perempuan, ruang menyusui..."
"Waahh, Kesana yuuk!!" Saya langsung berbinar.

Info dari suami saya itu seperti membawa angin segar. Hehe. Sebagai seorang ibu muda anak baru satu, sering kali saya membutuhan tempat untuk memenuhi berbagai keperluan, khususnya untuk diri sendiri yang bisa didapatkan secara cepat.  Maksudnya seperti 'one stop shopping', di satu tempat segala ada. Tidak perlu kesana kemari, mencari barang-barang yang saya butuhkan. Lumayan kan bisa irit waktu, jadi waktu untuk keluarga khususnya anak tidak habis untuk mondar mandir cari tempat belanja.

Bukan apa-apa, saya pernah (sering sih) mencari 1 barang tapi sangat susah mendapatkannya. Modelnya gak cocok, gak suka warnanya, harga mahal tapi menurut saya barangnya biasa-biasa saja, dan lain sebagainya. Mungkin saya mengalami fase 'rumitnya wanita' haha.

Contohnya, waktu itu saya mancari sepatu casual disebuah mall yang cukup besar.  Bersama suami dan anak yang masih balita, kami mengunjungi sekitar 5 toko, dan saya belum menemukan sepatu yang cocok. 5 toko itu mungkin relatif tidak banyak. Tapi saat itu kami harus mengelilingi satu mall, karena letak toko yang berjauhan. Belum lagi di beberapa toko tidak eksklusif menjual sepatu wanita, campur juga dengan sepatu pria dan anak. Wasting time :(. Dan tidak efektif.

Maka dari itu, konsep Ladies Corner  Thamrin City yang diusung oleh pengembang Agung Podomoro, sangat cocok untuk wanita khususnya ibu-ibu muda seperti saya.  Disana terdapat berbagai macam toko/butik yang menjual bebagai pakaian wanita, sepatu, tas, aksesoris, parfum, kosmetik dalam satu lokasi. Sehingga tidak perlu membuang waktu banyak untuk berkeliling mencari barang yang akan dibeli.

Selain itu juga di ladies corner, disediakan berbagai macam ATM, disediakan tempat parkir khusus wanita dan juga nursery room. Untuk ibu muda yang punya anak bayi atau balita, nursery room ini semacam tempat yang 'wajib' ada kalau di tempat belanja. Tempat privat untuk menyusui atau sekedar ganti popok.

Trade Mall Agung Podomoro tersebut menurut saya tidak hanya menawarkan 'one stop shopping', tapi juga ternyata harganya relatif murah-murah. Dan juga di Disini kita bisa menawar lho. Ayoo para mahmud, keluarkan kemampuan menawarnyaaa hehe.

Memang, awalnya saya sangsi 'murah-murah, bisa ditawar, segala ada, apa modelnya kayak pasar gitu? Harus berdesak-desakan, pengap, sempit?'
Ternyata TM Agung Podomoro Thamrin City ini, lagi-lagi tidak hanya menawarkan berbagai barang kebutuhan kita dengan kualitas dan harga yang oke. Tapi juga menyediakan fasilitas yang memadai, layaknya sebuah Mall. Ruangan ber-AC, terdapat lift, berbagai macam ATM, tempat makan, area yang luas, dsb.

Agung Podomoro sebagai pengembang, ternyata mengadakan TM Agung Podomoro Vaganza, alias undian berhadiah bagi para pengunjung. Barang berkualitas, tapi harganya murah. Harga murah, tapi fasilitas oke. Ditambah ada undiah berhadiahnya. Siapa yang tidak mau, coba?  Thamrin city memang mengerti wanita ;)

Selain itu, saya pikir dengan konsep yang dimiliki dan fasilitas yang memadai, serta kegiatan-kegiatan penunjang seperti  pengadaan undian berhadiah,  Thamrin City bukan hanya memanjakan para pengunjung. Tapi juga para pemilik toko. Konsep dan fasilitas tersebut memudahkan pedagang menarik orang-orang untuk berkunjung dan membeli barang disana. Bahkan bagi yang muslim, terdapat pula pusat busana muslim dan hijab di Thamrin City ini. Para pencita batik, disini juga terdapat pusat batik yang menjual berbagai macam batik yang ciamik. Ada pusat tenun, bursa mobil, handphone, dll. Semua hal diatas  semakin menjadi pemikat masyarakat untuk berbelanja di Mall tersebut.

Maka tidak berlebihan saya rasa, jika dikatakan bahwa selain membawa angin segar untuk pengunjung, Thamrin City ini juga membawa angin segar bagi  para pengusaha/pedagang yang berharap usahanya semakin maju dan berkembang untuk membuka bisnis di tempat ini.

Minggu, 17 Juli 2016

Kangen ayah

Ayah apa kabar? Semoga Allah melapangkan tempatmu disana
Putrimu udah 26thn sekarang, udah punya anak hehe
Yah,, kenapa ya orang suka nyari yang nggak ada..
Termasuk aku, yah.  Akhir2 ini suka nyari sosok ayah..
Papa adalah papa. Dan ayah tetap ayah.
Kadang aku berpikir, apa ya sikap ayah liat aku gini atau gitu
Kira2 ayah bakal mgapain ya kalau aku diginiin atau digituin
Apa yang akan ayah lakukan ya kalau kondisi aku kayak gini atau gitu..
Ahh kadang kangen itu tidak mempunyai dasar ya.. Aku gak punya memori kenangan sama ayah. Kok bisa kangen? Hehe.

Selasa, 21 Juli 2015

Hijab is my Fashion


“STYLE is a way to say who you are without having speak” Rachel Zoe.

Pilihan gaya berbusana pada setiap orang dilatarbelakangi oleh berbagai macam hal, baik itu pendidikan, lingkungan sosial, agama, dan lain sebagainya. Maka ada benarnya Rachel Zoe yang juga merupakan seorang desainer mengatakan demikian. Style atau fashion yang melekat pada seseorang menunjukkan siapa orang itu tanpa harus banyak menjelaskan dengan kata-kata. Jika ada orang berseragam loreng-loreng hijau beratribut lengkap, sepertinya tidak perlu bertanya-tanya siapa dia, karena sudah menjadi tanda pengenalnya bahwa ia seorang tentara. Ya, style-nya menunjukkan identitas seseorang.

Pun demikian dengan pakaian yang digunakan dalam keseharian kita. Memilih dan menentukan style atau fashion yang akan diadopsi untuk diri kita sendiri tentu perlu pertimbangan yang matang. Mengapa? karena salah satu yang melatarbelakangi gaya berbusana kita adalah agama.  Kita yang muslim tentu percaya bahwa Allah sudah mengatur segala urusan manusia melalui agama Islam yang kita pelajari dari Al-quran dan Sunnah. Oleh karena itu jangan sampai apa yang dilakukan bertentangan dengan ajaran Islam. Termasuk dalam hal berpakaian.


Banyak pilihan berbusana yang ditawarkan oleh penggiat fashion yang juga membawa berbagai misi, disamping misi bisnis. Misalnya saja fashion dunia yang makin ‘mendunia’ sampai masuk ke berbagai kawasan-kawasan desa melalui perantara media (terutama televisi), melalui artis-artis yang banyak penggemarnya. Sayangnya fashion yang mereka tawarkan banyak yang bertentangan dengan Islam, -agama yang kita anut.  Berbusana sebagai ajang pamer kekayaan dengan baju-baju atau tas branded yang super mahal, dan yang paling parah adalah mengumbar aurat atau mungkin bisa dikatakan mengobral aurat.  Hingga gaya ber-fashion mereka diikuti masyarakat dan menjadi trend. Misi inilah yang patut kita waspadai, hindari bahkan perangi: misi MERUSAK moral.

Namun, toh selalu ada harapan. Ada juga para penggiat fashion, baik itu desainer atau pelaku bisnis yang juga menawarkan style berbusana untuk kaum wanita yang merujuk pada Islam, yaitu mengenakan hijab. Sebenarnya trend muslimah khususnya di Indonesia, sudah mulai memasuki masa sadar hijab. Jika kita bandingkan dengan tahun 80-90an, saat ini banyak muslimah yang mengenakan hijab dalam kesahariannya. Terlepas dari cara berhijab yang sudah sesuai aturan atau belum. Tapi minimal itu pertanda ia ingin mengikuti salah satu syariat yang ditujukan bagi wanita.

Komunitas-komunitas hijab yang kebanyakan ‘berkampanye’ melalui media sosial menjadi salah satu pembuka trend dalam berhijab. Mereka menawarkan cara hijab yang berbeda. Yang perlu diakui adalah bahwa komunitas tersebut beserta bisnis-bisnis hijabnya sudah menjadi daya tarik sendiri bagi muslimah, terutama muslimah muda. Muslimah yang ingin tampil gaya, fashionable, diakui dalam lingkungan dan juga tetap menjalankan perintah berhijab mulai merebak. Hijab warna warni, motif yang menarik, desain yang unik, serta tutorial hijab yang semakin menjamur menjadi pelengkap dalam hijab fashion ini. Hal tersebut menjadi kemajuan bagi umat islam sekaligus tantangan. Kemajuan dalam hal kesadaran dan menjadi tantangan karena masih banyak muslimah berhijab tapi belum syar’i (belum sesuai syariat islam).

Namun menentukan seorang muslimah lebih baik/ lebih buruk dari muslimah lainnya bukan hak kita, apalagi jika hanya dinilai dari cara berhijabnya. Jika hijabnya belum sesuai aturan Islam, maka ada ruang-ruang ikhtiar yang Allah sediakan. Ikhtiar untuk mencari tahu bagaimana seharusnya berhijab. Jika sudah tahu bagaimana hijab yang benar tapi belum melaksanakannya, maka ada ruang untuk terus berdoa meminta hidayahNya. Dan sebagai sesama muslim sudah seharusnya membantu untuk mengisi ruang ikhtiar tersebut. Diantaranya bisa dengan mengenalkan ataupun mempermudah untuk mendapatkannya. Misalnya penjual/pebisnis memberikan bonus kaos kaki jika membeli jilbabnya atau pun detail motifnya diujung bagian tangan, karena kebanyakan baju muslim detail motifnya berada dibagian dada yang jika mengulurkan jilbabnya akan tertutup.

Apakah ada penggiat fashion di Indonesia yang concern menawarkan produk hijab syar’i? ADA! Salah satunya adalah brand @byummubalqis / MomBee yang diprakarsai oleh @babyhijaber (namanya mbak Ernie atau lebih dikenal dengan sebutan mommy/ ummu balqis). @babyhijaber ini konsisten menawarkan berbagai koleksi hijab syar’i-nya yaitu gamis dan kerudung yang lebar dan tidak menerawang. Desainnya pun sangat menarik, misalnya saja detail motif yang ditempatkan dari atas sampai bawah, seperti salah satu produknya yaitu Jippa Abaya. Sehingga detail motifnya tetap terlihat walaupun menggunakan kerudung lebar. Gamis-gamis polosnya pun tetap terlihat oke dengan desainnya yang elegan. Selain itu kelebihan lainnya adalah penggunakan bahan kualitas tinggi yang bisa membuat penggunanya merasa nyaman. Promosi di media sosial pun menjadi pilihan cerdas yang efektif untuk menyampaikan misi kebaikannya, karena saat ini banyak citizen menjadi netizen juga.

Tawaran produk hijab syar’i dengan desain menarik, bahan kualitas tinggi, dan ternyata harga yang tidak mahal, menjadikan produk @byummubalqis layak menjadi pilihan untuk melengkapi gaya hijab kita. Saya rasa @babyhijaber telah turut membantu mengisi ruang ikhtiar untuk muslimah yang ingin berhijab syar’i. Yang belum berhijab syar’i bisa jadi mulai syar’I dengan memilih produk @byummubalqis, yang sudah berhijab syar’I menjadi mudah mendapatkan hijab kualitas premium.

Hijab syar’I ini lah yang patut dijadikan fashion yang dilekatkan pada diri. Fashion kita adalah identitas kita. Identitas kita adalah apa-apa yang sesuai dengan keIslaman kita.  Keislaman kita adalah apa-apa yang Allah ridhoi. Bukan untuk dilihat orang lain, tapi dilihat Allah. Apakah Allah ridho jika kita menggunakan baju ketat, lengan terlihat, kaki tak ditutupi? Apakah Allah ridho jika pakaian yang kita gunakan untuk pamer kekayaan? Apakah Allah ridho jika kita keluar rumah bahkan tak berhijab?

Konsistensi brand UmmuBalqis @babyhijaber dengan hijab syar’I nya menjadi Value yang tersendiri yang menjadikan brand ini memiliki banyak nilai tambah. Tidak hanya dimata manusia seperti saya atau yang lainnya, tapi juga semoga di mata Allah, InsyaAllah, aamiin.. J

Rabu, 11 Februari 2015

[Belajar dari Jokowi #1] Insiden Kancing Jas


Beberapa hari ini ramai pemberitaan mengenai kancing bawah jas Jokowi yang mungkin terlupa untuk dikancingkan. Hal tersebut dianggap menjadikan penampilan Jokowi sangat tidak rapi (dan katanya juga memalukan, menjatuhkan wibawa), apalagi itu terjadi saat acara kenegaraan. Lalu muncullah pertanyaan, bukankah disitu ada istrinya? seharusnya istrinya lah yang memastikan kerapian pakaian sang suami. Itu tanggungjawab istri, -katanya.

Saya pikir memang demikian, tapi bukan berarti itu 100% kesalahan istri, bisa saja kan mereka berdua sama-sama tidak ngeuh. Khilaf. Hanya saja, memang sudah  seharusnya istri siaga menjaga kewibawaan/kehormatan suaminya, salah satunya masalah pakaian. Dengan catatan, suami pun demikian terhadap istri.

“sudahlah, jangan dibesar-besarkan, itukan hanya masalah kancing jas saja” ada juga yang bernada seperti itu. Benar juga, tapi sayangnya Jokowi seorang presiden suatu Negara yang akan selalu menjadi sorotan jutaan orang. Yang juga dipundaknya dibebankan kewibawaan dan kehormatan bangsa. Maka ya wajar-wajar saja jika menjadi bahan pembicaraan.

Bagaimana jika itu terjadi pada kita yang bukan presiden atau orang terkenal. Baju yang kita kenakan ada yang robek saja mungkin hanya jadi sorotan beberapa orang atau bahkan mungkin tak ada yang peduli.

Ini cukup membuat ‘heboh’ padahal hanya masalah pakaian yang dikenakan oleh fisik, oleh raga semata, dan hanya menjadi penilaian makhluk yang kadang juga memiliki standar ganda. Pertanyaan besarnya adalah  “Bagaimana jika itu masalah keimanan dan ketakwaan? apakah hanya presiden yang menjadi sorotan?” Jelas tidak! Allah tidak membeda-bedakan seseorang melalui jabatannya atau kedudukannya di dunia. Dalam urusan ini kita pun menjadi sorotan. Bahkan menjadi sorotan Penguasa segala makhluk.

Jika keimanan dan ketakwaan seseorang ada yang ‘kurang’ atau ‘tidak pas’ siapa yang bertanggung jawab atas hal itu? selain dirinya sendiri tentu saja pasangannya, anaknya, orangtuanya, atau saudaranya dan juga saudara seiman. Sama seperti insiden kancing jas Jokowi, jika seorang suami alfa untuk bersedakah, sudah seharusnya istri yang mengingatkan, istri turut menjaga kedudukan suaminya, bukan dimata makhluk, tapi langsung dimata Allah. Jika istri berbuat maksiat, tentu saja suami yang bertanggungjawab untuk memperbaiki kesalahan itu, agar penilaian Allah tetap baik bagi istrinya.

Seperti juga Jokowi yang jika ada kekurangan maka akan berdampak besar bagi bangsa, keimanan dan ketakwaan pun jika bermasalah akan berdampak pada keluarga, orang-orang sekitar, masyarakat dan bahkan juga bangsa. Seperti jika ada bencana di suatu negara, bisa saja itu azab dari Allah karena orang-orangnya banyak berbuat maksiat, kurang ketakwaannya pada Allah. Jika ada satu anggota keluarga yang berbuat maksiat, bisa jadi itu penghalang rezeki keluarga. Atau seorang ibu yang lalai beribadah, lalu dampaknya anaknya pun ikut lalai dalam beribadah dan terbawa terus hingga ia dewasa. Tanggungjawab siapa itu? Kita.  Yuk, saling mengingatkan…

Cianjur, 11 Februari 2015 - 00:41